Gowa, Buletin-news.com || Puluhan massa yang tergabung dalam Koalisi Gerakan Formasi Gowa, BMP Sulawesi Selatan, serta Forgata Gowa, turun ke jalan menggelar demonstrasi besar-besaran. Dengan spanduk raksasa bertuliskan “GOWA DARURAT”, mereka menyuarakan kemarahan publik atas berbagai persoalan krusial yang melanda pemerintahan daerah kabupaten Gowa, Selasa (07/04/2026).
Aksi unjuk rasa ini bukan sekadar gerakan biasa, melainkan bentuk desakan keras akibat keresahan mendalam yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Pemicu utama kemarahan massa adalah merebaknya isu dugaan skandal berat yang diduga melibatkan oknum pejabat publik di lingkungan Pemkab Gowa, yang hingga kini dianggap belum mendapat penanganan serius dan transparan.
Massa membawa empat tuntutan pokok yang menjadi dasar perlawanan mereka, dan menegaskan tidak akan pulang sebelum ada kepastian hukum dan jawaban yang memuaskan. Poin pertama dan yang paling utama adalah mendesak aparat penegak hukum serta instansi terkait untuk mengusut tuntas dan membongkar habis dugaan skandal tersebut tanpa pandang bulu.
Tuntutan kedua ditujukan langsung kepada orang nomor satu di Gowa. Massa mendesak Bupati Gowa, Hj. Husniah Talenrang, untuk segera turun tangan memberikan klarifikasi terbuka dan lugas kepada publik. Mereka menilai kebisuan pimpinan daerah hanya akan memicu spekulasi liar dan memperparah krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan.
Selain persoalan skandal, koalisi aktivis ini juga menuntut Pemkab Gowa untuk bekerja lebih keras dan nyata dalam menyelesaikan berbagai problematika daerah yang terbengkalai. Pembangunan yang tidak merata dan persoalan sosial yang tak kunjung usai menjadi sorotan tajam yang harus segera dijawab dengan aksi nyata, bukan sekadar janji manis.
Tidak kalah penting, massa menuntut dihentikannya segala tindakan atau kebijakan yang dinilai telah mencoreng wajah dan marwah Bumi Bersejarah Gowa. “Kami datang bukan untuk merusak, tapi untuk menyelamatkan nama besar leluhur dari aib yang dibuat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegas orator dengan suara bergetar penuh emosi.
“Transparansi dan integritas adalah harga mati! Kami tidak akan membiarkan nama harum Gowa diinjak-injak demi kepentingan segelintir orang,” teriak massa serentak, menegaskan bahwa gerakan ini murni lahir dari rasa cinta dan keprihatinan mendalam terhadap nasib daerah dan rakyatnya.
Hingga berita ini diturunkan, suasana masih terlihat kritis namun tetap terkendali. Perwakilan massa masih berupaya keras melakukan audiensi untuk menyalurkan aspirasi langsung, sementara pengamanan ketat dilakukan oleh aparat kepolisian dan Satpol PP demi menjaga agar aksi damai ini tetap berjalan sesuai koridor hukum. Rakyat menunggu, apakah suara keras ini akan didengar atau justru diabaikan?























