
Sungguminasa, Buletin-news.com _ Belum lagi lega bernafas, para pengendara kembali dibuat sesak karena antrian panjang kembali terjadi pada sejumlah spbu di kabupaten gowa, pada Rabu 14/10/2026. Berdasar pantauan di sejumlah spbu tersebut, pengendara kembali dipaksa untuk berjibaku hanya untuk sekedar mendapatkan beberapa liter pertalite. Hal serupa juga terjadi pada kendaraan diesel, dimana antrian solar juga tidak bisa dihindarkan.
Di hampir semua spbu yang terpantau, untuk bbm jenis solar, semakin menampilkan para pelansir bbm dengan ciri khasnya “jerigen biru” pada kendaraan roda dua yang nantinya akan disimpan pada suatu area tertentu.

Tak jauh berbeda, untuk bbm jenis pertalite juga menampilkan pasukan “motor thunder” yang juga mencoba peruntungan mereka dengan mendistribusikan pertalite di pertamini-pertamini yang tersebar luas di kabupaten dengan julukan “kios wajo”. Sebutan itu menjadi warna baru perputaran ekonomi di beberapa kabupaten. Disitu, saat normal, pertalite dibandrol 12.000 per liter. Namun, jika distribusi terganggu, harganya bisa jauh di atas harga normal.
Kondisi itu menimbulkan begitu banyak kecurigaan. Hampir semua pengendara, baik roda dua, roda empat hingga kendaraan jenis truk mengaku kesal karena aliran bbm kembali tersendat. Iwan, pemilik motor scoopy mengaku harus antri lebih sejam untuk motornya. Sementara mas Anto memberikan jawaban senada. Mobil Avanzanya harus terseok-seok demi pertalite.
“Saya sudah dua jam disini mas. Bagaimana mi itu logistik yang mau saya antar ke daerah, bisa rusak”, sebut Anto penuh nada kuatir.
Seorang pengendara motor lainnya menimpali bahwa dirinya terpaksa antri di sini karena pada spbu sebelumnya tidak ada pertalite.
Kondisi ini belumlah lengkap jika belum mengungkap para pelansir bbm jenis solar yang menggunakan kendaraan roda empat. Tidak bisa dinafikan keberadaan mereka dalam antrian kendaraan roda empat pada bbm jenis solar. Bak siluman, ada keterlibatan oknum disetiap putaran roda ban mereka. Tidak tanggung tanggung, mereka berani mendesain ulang bagian dalam mobil mereka demi segepok rupiah. Bahkan sekelas pajero sport mereka obok-obok dengan merakit tangki bbm pada bagian dalam kendaraan yang tertutup riben 100℅.
Kejadiannya hampir sama terjadi pada kendaraan jenis truk yang ikut mengantri tapi berulang kali keluar masuk spbu. Mereka (sopir) juga mengaku di back-up oknum. Pekerjaan mereka hampir mulus berjalan jika tidak diamati secara cermat. Begitu banyak mafia atau siluman yang bermain dan memanfaatkan situasi antrian dengan harapan lolos dari perhatian masyarakat karena semua sibuk memikirkan diri sendiri demi pertalite maupun solar.
Daeng Liwang yang juga ikut antri lebih jeli lagi. Dia bahkan berani menyebut bahwa pertamina-lah di balik semua ini. “Pertamina adalah pemain level atas yang berani mainkan hak kami”, sebutnya kesal. Semestinya, sebut dia, ini tidak terjadi pada kami. Dia juga menilai kalau pertamina dianggap gagal sebagai pengemban amanah undang-undang.
Namun, terlepas dari semua itu, siapakah pemain yang sebenarnya. Atau, benarkah semua tuduhan masyarakat ?
Jika ada pemain, tentu tidaklah sulit menemukan pemainnya karena semua kasat mata di depan kita. Pertanyaan besarnya adalah adakah keberanian menebang mereka sebagai pemain yang menyulitkan banyak orang ?
Para pengendara yang ikut antrian juga pertanyakan ketiadaan aparat penegak hukum di spbu-spbu sebagai fungsi pengawasan. Adakah mereka juga ikut bermain ?
Penulis: tim investigasi






















