Takalar — Buletin-News.com.Ribuan tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, meledakkan kemarahan kolektif mereka dengan turun ke jalan dan melumpuhkan arus lalu lintas. Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan tuduhan terbuka terhadap praktik nepotisme yang diduga menggerogoti sistem kesehatan daerah.
“Kami turun ke jalan karena tidak punya orang dalam,” teriak massa dengan nada keras. Kalimat itu menjadi vonis telanjang atas birokrasi yang dinilai lebih mengutamakan kedekatan daripada pengabdian.
Para nakes—perawat, bidan, hingga tenaga teknis kesehatan—mengaku telah mengabdi bertahun-tahun di puskesmas dan fasilitas layanan publik, termasuk saat pandemi. Namun ironisnya, ketika bicara pengangkatan, penempatan, dan kepastian status, mereka justru tersingkir oleh nama-nama baru yang diduga kuat memiliki akses kekuasaan.
Aksi berlangsung panas. Spanduk-spanduk bernada tajam dibentangkan tanpa kompromi:
“Kerja Nyata Kalah oleh Orang Dalam”,
“Hentikan Nepotisme di Dinas Kesehatan”,
“Jangan Rampas Hak Nakes.”
Menurut para demonstran, berbagai upaya audiensi selama ini hanya berakhir sebagai formalitas kosong. Janji-janji pemerintah daerah disebut tak pernah diwujudkan dalam kebijakan nyata. Transparansi nihil, data tak dibuka, mekanisme pengangkatan dinilai gelap dan tertutup.
“Kami bukan pengemis jabatan. Kami menuntut keadilan. Kalau sistem ini bersih, tidak akan ada ribuan nakes memblokade jalan hari ini,” tegas salah satu koordinator lapangan.
Situasi ini sekaligus menjadi alarm keras bagi pelayanan kesehatan di Takalar. Para nakes memperingatkan, bila aspirasi mereka kembali diabaikan, gelombang aksi lanjutan dengan skala lebih besar siap digelar. Bahkan, opsi penghentian layanan non-darurat disebut bukan lagi tabu.
Aksi ribuan nakes hari ini menegaskan satu pesan penting:
ketika keadilan ditutup di ruang birokrasi, kebenaran akan mencari jalannya sendiri—dan hari ini, jalannya adalah jalan raya.
Laporan:red





















