Beranda Berita Nasional Banjir Bertahun-tahun Tak Kunjung Teratasi, Warga BTN Perumahan Griya Ifah Desak Solusi...

Banjir Bertahun-tahun Tak Kunjung Teratasi, Warga BTN Perumahan Griya Ifah Desak Solusi Nyata,Pihak Pengembang Jangan Tutup Mata

75
0

Takalar, Buletin-news.com || Banjir kembali merendam kawasan BTN Perumahan Griya Ifah, tepatnya di Dusun Kampung Parang, Desa Bontolanra, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Rabu (25/2/2026).

Genangan air yang mencapai lutut orang dewasa terlihat menutupi hampir seluruh badan jalan perumahan dan masuk ke sejumlah rumah warga.
Peristiwa ini bukanlah kejadian pertama.

Warga menyebut banjir telah terjadi berulang kali selama bertahun-tahun setiap musim hujan tiba. Namun hingga kini, mereka menilai belum ada langkah penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan, baik dari pemerintah daerah maupun pihak pengembang perumahan.

Pantauan di lokasi menunjukkan air menggenangi jalan utama dan lorong-lorong perumahan, sehingga aktivitas warga terganggu. Sejumlah kendaraan roda dua dan roda empat terpaksa diparkir di tempat yang lebih tinggi.

Perabot rumah tangga, peralatan elektronik, serta fasilitas umum juga terdampak akibat luapan air yang tak kunjung surut selama beberapa jam dan
Warga menduga persoalan banjir ini dipicu oleh buruknya sistem drainase di kawasan perumahan.

Saluran air dinilai tidak mampu menampung debit air hujan yang tinggi. Selain itu, minimnya area resapan serta tata kelola pembangunan yang kurang memperhatikan kondisi geografis dan lingkungan sekitar disebut menjadi faktor utama penyebab genangan air terus berulang.

Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan rasa kecewa dan keprihatinannya atas kondisi tersebut.

“Saya sudah lama tinggal di sini dan jujur sangat prihatin. Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat tinggal yang nyaman justru harus menghadapi banjir yang tidak kunjung selesai. Setiap hujan deras turun, kami selalu was-was,” ujarnya.

Ia menambahkan, situasi ini sangat mengkhawatirkan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Selain mengganggu kenyamanan, banjir juga berpotensi menimbulkan berbagai penyakit akibat genangan air yang kotor.

“Bukan hanya soal kenyamanan, tapi ini menyangkut kesehatan dan keselamatan. Anak-anak kesulitan beraktivitas, orang tua khawatir perabot dan kendaraan rusak. Kerugian materi terus kami rasakan,” tambahnya.

Warga berharap adanya pertemuan terbuka antara pemerintah desa, pemerintah kabupaten, serta pihak developer untuk membahas solusi nyata. Mereka menginginkan normalisasi drainase, pembangunan saluran air yang memadai, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem tata kelola lingkungan perumahan.

“Harapan kami sederhana: developer dan pihak terkait jangan menutup mata. Kami butuh solusi konkret, bukan sekadar janji. Warga berhak tinggal di lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari banjir,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih menantikan respons resmi dari pihak pengembang maupun instansi terkait guna mencari langkah penanganan yang tepat dan berkelanjutan.

LP. Sukmawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here