Beranda Berita Nasional Kerajaan Sidenreng–Rappang: Dua Kerajaan Kembar, Satu Ikatan, dan Warisan Adat yang Menjadi...

Kerajaan Sidenreng–Rappang: Dua Kerajaan Kembar, Satu Ikatan, dan Warisan Adat yang Menjadi Jati Diri Sidrap

45
0

SIDRAP, Buletin-news.com — Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, tidak hanya dikenal sebagai salah satu daerah lumbung pangan, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang berakar dari dua kerajaan kembar, yakni Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang.

Dalam catatan sejarah dan tradisi lisan masyarakat, kedua kerajaan tersebut diperintah oleh dua orang raja yang masih bersaudara. Karena hubungan kekerabatan dan ikatan yang begitu kuat, wilayah kedua kerajaan pada masa itu tidak memiliki batas yang tegas.

Lontaraq menggambarkan bahwa masyarakat Sidenreng dan Rappang bahkan baru dapat dibedakan ketika memasuki musim panen.
Mereka yang mengangkut hasil padinya ke arah utara disebut sebagai rakyat Kerajaan Rappang. Sementara mereka yang membawa hasil panennya ke arah selatan merupakan rakyat Kerajaan Sidenreng.

Kisah tersebut menggambarkan betapa dekatnya hubungan kedua kerajaan yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas Sidenreng Rappang.
Lebih dari sekadar batas wilayah, kedua kerajaan juga memiliki ikrar persaudaraan yang sangat kuat:

“Jika Rappang mati pagi, Sidenreng mati sore. Atau sebaliknya, Sidenreng mati pagi, Rappang mati sore.”
Ikrar tersebut menjadi simbol bahwa kedua kerajaan tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan memiliki nasib dan perjuangan yang saling terkait.

Jejak Asal-usul Sidenreng dan Rappang
Dalam salah satu kisah yang berkembang di masyarakat, Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang juga dikaitkan dengan kisah Tomanurung, sebagaimana banyak kerajaan di Sulawesi Selatan memiliki tradisi dan mitologi mengenai asal-usul para pemimpinnya.
Salah satu cerita menyebutkan bahwa asal-usul Sidenreng bermula dari sekelompok orang Sangalla di Tana Toraja yang meninggalkan daerah asalnya akibat kepemimpinan La Maddaremmeng yang digambarkan dalam kisah tersebut sebagai raja yang otoriter dan korup.

Rombongan tersebut disebut terdiri atas delapan bersaudara, di antaranya La Pasampoi dan La Pababbari.
Dalam kisah itu pula disebutkan bahwa mereka bukan penduduk asli Sangalla, melainkan memiliki hubungan asal-usul dengan Luwu, mengingat Sangalla pernah berada dalam pengaruh Kerajaan Payung Luwu.

Mereka kemudian berjalan bersama sambil berpegangan tangan atau “sidenreng-denreng”, hingga menemukan sebuah danau yang menjadi sumber air bersih. Danau tersebut kemudian dikenal sebagai Danau Sidenreng.
Sementara itu, nama Rappang dalam kisah tersebut dikaitkan dengan kata rappe, yang berarti tersangkut atau terselamatkan.

Dari sanalah lahir sebuah filosofi tentang masyarakat Sidenreng Rappang sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi persatuan, kebersamaan, gotong royong, silaturahmi, serta hubungan yang erat antara rakyat dan pemimpinnya.

Warisan Ajatappareng dan Tradisi Addaowang
Dalam perjalanan sejarahnya, Sidenreng Rappang menjadi bagian dari rumpun Ajatappareng, bersama wilayah seperti Pinrang, Enrekang dan Parepare.

Secara geografis, Kabupaten Sidenreng Rappang saat ini berbatasan dengan Kota Parepare, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Wajo dan Kabupaten Soppeng.
Sidrap juga memiliki warisan tradisi pemerintahan kerajaan yang dikenal dengan sebutan Addaowang atau Addatuang.
Dalam tradisi tersebut terdapat ikrar yang menggambarkan hubungan antara raja, pemangku adat dan rakyat.

Sang Raja berikrar bahwa aturan dan adat berlaku bagi semua orang tanpa pengecualian, termasuk dirinya sendiri. Apabila seorang raja melanggar adat, maka rakyat tidak boleh mengikuti kesalahan tersebut.
Adat dan hukum ditempatkan sebagai sesuatu yang utama.

Para pemangku adat pun memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan ketika terjadi kekeliruan, saling membantu ketika ada yang jatuh, serta menjaga hubungan kemanusiaan.
Bahkan, adat dan hukum memiliki kewenangan moral untuk membetulkan kehendak maupun tindakan seorang raja apabila keputusan tersebut berpotensi merugikan rakyat.

Sementara rakyat menyatakan kesetiaan dan kepatuhannya kepada raja yang adil.
Dari nilai tersebut terlihat sebuah prinsip kepemimpinan yang menempatkan keadilan, adat, hukum, tanggung jawab dan kepentingan rakyat sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

Nene’ Mallomo dan Filosofi Hukum yang Tidak Mengenal Tebang Pilih
Salah satu tokoh paling legendaris dalam sejarah Sidrap adalah Nene’ Mallomo atau La Pagala, yang dikenal sebagai ahli hukum sekaligus penasihat raja dan datu.
Namanya begitu kuat dalam ingatan masyarakat Bugis karena keteguhan prinsipnya dalam menegakkan hukum.

Kisah paling terkenal menyebutkan bahwa Nene’ Mallomo bahkan menghukum mati anak kandungnya sendiri karena melakukan pencurian.
Pesan yang kemudian dikenang hingga kini adalah:

“Iyero ade’e temmakeana-temmakeappo.”
Yang bermakna bahwa hukum tidak mengenal anak maupun cucu—tidak boleh ada pengecualian hanya karena hubungan keluarga.
Prinsip tersebut menjadi gambaran tentang pentingnya keadilan yang tidak boleh tunduk kepada kepentingan pribadi maupun hubungan kekeluargaan.

“Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata”
Warisan lain yang sangat melekat dengan masyarakat Sidrap adalah filosofi:
“Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata.”

Filosofi tersebut mengandung pesan bahwa kerja keras, ketekunan dan pantang menyerah menjadi jalan bagi datangnya rahmat Tuhan.
Nilai inilah yang kemudian terus hidup dalam karakter masyarakat Sidrap: bekerja keras, menjaga persaudaraan, menjunjung adat, menghormati pemimpin yang adil, serta tidak melupakan akar sejarah.

Karena itu, sejarah Sidenreng Rappang bukan sekadar cerita tentang masa lalu.
Ia adalah identitas, warisan, sekaligus pengingat bagi generasi sekarang bahwa persatuan, keadilan, adat dan kerja keras telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Sidrap.

Bangga menjadi orang Sidrap. Bangga menjaga warisan leluhur. Bangga meneruskan nilai-nilai Sidenreng Rappang untuk generasi berikutnya.

Sumber naskah: M. Saleh Mude, Sekjen PB Kebugis 2018, Sejarah Sidenreng Rappang.

Sumber gambar: KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde / Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies), Restorasi Potret Masyarakat di Pasar Massepe Sidenreng Rappang Tahun 1905

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here