Makassar — Buletin-news.com || Agenda pemutaran film Pesta Babi yang dijadwalkan berlangsung di Toko Rumah Buku Makassar batal digelar setelah aparat keamanan mendatangi lokasi kegiatan pada Sabtu (16/5) malam.
Kegiatan yang sedianya menjadi ruang pemutaran film sekaligus forum diskusi itu dihadiri sejumlah peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pegiat literasi, hingga komunitas diskusi independen.
Berdasarkan keterangan penyelenggara, sejumlah aparat dari Polsek Tamalanrea datang ke lokasi saat persiapan acara berlangsung untuk melakukan pemantauan dan meminta penjelasan terkait agenda kegiatan. Kehadiran aparat juga diikuti beberapa warga setempat, termasuk ketua RT dan RW.
Founder Rumah Buku, Kahar Ali Husein Zahra, mengatakan pembatalan dilakukan setelah adanya komunikasi antara panitia dan aparat dengan mempertimbangkan situasi keamanan di lokasi.
“Awalnya kegiatan ini kami siapkan sebagai ruang pemutaran film dan diskusi terbuka. Namun setelah aparat datang dan menyampaikan pertimbangan soal keamanan, kegiatan akhirnya tidak kami lanjutkan,” ujar Kahar kepada wartawan, Sabtu malam.
Ia menegaskan bahwa pemutaran film tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ruang diskusi intelektual yang selama ini rutin digelar di Rumah Buku.
“Ini ruang ekspresi budaya dan pertukaran gagasan. Kami menyayangkan pembatalan karena kegiatan seperti ini seharusnya menjadi ruang belajar bersama, bukan justru dihentikan,” katanya.
Sejumlah peserta yang hadir turut menyampaikan kekecewaan atas pembatalan tersebut. Mereka menilai alasan penghentian kurang relevan karena film yang sama sebelumnya pernah diputar di lokasi yang sama tanpa menimbulkan gangguan.
“Film ini pernah diputar sebelumnya dan berjalan biasa saja. Diskusinya juga kondusif. Jadi kami heran kenapa kali ini justru dianggap berpotensi menimbulkan masalah,” ujar salah seorang peserta yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, pihak keamanan di lokasi menyampaikan bahwa langkah penghentian dilakukan sebagai bentuk antisipasi guna menjaga ketertiban masyarakat dan mencegah potensi gesekan sosial.
Peristiwa ini kembali menyoroti tantangan ruang seni, literasi, dan diskusi publik di Makassar yang masih kerap berhadapan dengan sensitivitas sosial serta perdebatan mengenai batas kebebasan berekspresi di tengah masyarakat.
Sumber : Rendi Aktivis jakfi
Editor : Tim Redaksi






















