Beranda Berita Nasional perjakon soroti kegagalan proyek di kabupaten tegal, lemahnya koordinasi dinilai jadi biang...

perjakon soroti kegagalan proyek di kabupaten tegal, lemahnya koordinasi dinilai jadi biang masalah

52
0

Tegal – Jateng, Buletin-news.com – Persatuan Jasa Konstruksi (Perjakon) Kabupaten Tegal secara terbuka menyoroti masih berulangnya kegagalan sejumlah proyek pembangunan di wilayah Kabupaten Tegal. Permasalahan tersebut dinilai bukan sekadar persoalan teknis di lapangan, melainkan dipicu lemahnya koordinasi, kuatnya ego sektoral, hingga minimnya komunikasi antar kontraktor.

Sorotan tersebut mencuat dalam forum buka puasa bersama para penyedia jasa konstruksi se-Kabupaten Tegal yang digelar di Hotel Grand Dian, Kamis (26/2/2026). Forum itu menjadi ajang refleksi sekaligus evaluasi atas berbagai persoalan yang kerap muncul dalam pelaksanaan proyek daerah.

Ketua Perjakon Kabupaten Tegal, Rosa, menegaskan bahwa banyak proyek pembangunan mengalami hambatan bukan karena kekurangan kemampuan teknis, tetapi karena masing-masing pihak berjalan sendiri tanpa sinergi.

“Banyak pembangunan atau konstruksi di Tegal gagal murni karena tidak adanya koordinasi antar kontraktor. Masing-masing berjalan sendiri. Akibatnya terjadi miskomunikasi, tumpang tindih pekerjaan, hingga konflik di lapangan,” tegas Rosa.

Menurutnya, kondisi tersebut kerap berujung pada keterlambatan progres pekerjaan, pembengkakan anggaran, serta menurunnya kualitas hasil akhir proyek. Bahkan dalam beberapa kasus, persoalan kecil yang tidak segera dikomunikasikan berkembang menjadi polemik besar yang merugikan semua pihak, termasuk pemerintah daerah sebagai pengguna jasa.

Rosa menilai, selama ini belum ada forum resmi yang benar-benar menjadi ruang konsolidasi antar penyedia jasa konstruksi di Kabupaten Tegal. Akibatnya, setiap persoalan diselesaikan secara sporadis dan parsial, tanpa solusi jangka panjang.

“Karena itu kami berharap ada wadah persatuan yang kuat. Perjakon Tegal hadir untuk mengisi kekosongan itu, menjadi jembatan komunikasi dan tempat menyatukan persepsi,” ujarnya.

Selain persoalan koordinasi, sejumlah peserta forum juga menyinggung budaya kerja eksklusif yang masih mengakar di sebagian pelaku jasa konstruksi. Tidak sedikit kontraktor yang memilih bekerja secara tertutup dan enggan membuka komunikasi dengan pihak lain, sehingga memperbesar potensi miskomunikasi.

Slamet, salah satu peserta forum, menyampaikan bahwa perubahan pola pikir dan budaya kerja menjadi kunci perbaikan ke depan.

“Kita tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri. Proyek itu melibatkan banyak pihak, jadi komunikasi harus dibangun sejak awal. Kalau tidak, yang rugi bukan hanya kontraktor, tapi masyarakat sebagai penerima manfaat,” ujarnya.

Melalui forum tersebut, Perjakon Kabupaten Tegal berkomitmen mendorong terciptanya sinergi, transparansi, dan profesionalisme dalam setiap proyek pembangunan. Diharapkan ke depan, kualitas konstruksi di Kabupaten Tegal semakin baik dan mampu memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Lp. Slmt

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here