Beranda Berita Nasional Tekan Stunting hingga 15,9 Persen, Pemkab Tegal Perkuat Kader Posyandu dan TPK

Tekan Stunting hingga 15,9 Persen, Pemkab Tegal Perkuat Kader Posyandu dan TPK

61
0

SLAWI,jateng-buletin-News.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal terus menggencarkan upaya penurunan angka stunting melalui berbagai program strategis. Salah satunya adalah Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang digelar di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Tegal, Rabu (11/2/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, kader Posyandu, kader TPK, ketua TP PKK Desa, serta Kader Pembangunan Manusia (KPM) dari Desa Sidakaton dan Gembongdadi.

Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) DP3AP2KB Kabupaten Tegal, Cecilia Sri Rahayu, mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Tegal menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka stunting turun menjadi 15,9 persen, dibandingkan tahun 2021 yang mencapai 28 persen.

“Penurunan ini tidak lepas dari sinergi seluruh OPD serta peran aktif kader Posyandu dan TPK dalam melakukan intervensi di lapangan,” ujar Cecilia.

Ia menjelaskan, strategi penurunan stunting yang dijalankan Pemkab Tegal mengacu pada enam pesan kunci komunikasi perubahan perilaku, yaitu:

1. Pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil;

2. Keikutsertaan ibu hamil dalam kelas ibu hamil;

3. Edukasi pemberian makanan bayi dan anak (PMBA);

4. Membawa balita ke Posyandu secara rutin;

5. Praktik cuci tangan pakai sabun;

6. Penggunaan jamban sehat.

Pelatihan ini turut menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, Nur Ika Sofiyanti. Dalam pemaparannya, ia menyebut tiga sasaran dalam strategi komunikasi perubahan perilaku. Sasaran primer meliputi calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, orang tua balita, dan keluarganya. Sasaran sekunder adalah para kader, tokoh agama, tokoh masyarakat, bidan desa, dan tenaga kesehatan. Sedangkan sasaran tersier mencakup pemerintah desa dan kabupaten.

Kegiatan yang difasilitasi oleh Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) ini diharapkan mampu membekali para kader dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang lebih baik dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

Fasilitator YSKK, Kang Sure, menegaskan bahwa masih ada tiga pesan kunci yang perlu ditingkatkan pemahamannya di masyarakat, yakni konsumsi tablet tambah darah, kebiasaan cuci tangan pakai sabun, serta penggunaan jamban sehat.

“Setelah pelatihan ini, kami berharap kader mampu memperkuat edukasi kepada masyarakat, terutama pada tiga aspek yang masih menjadi tantangan tersebut,” pungkasnya.

(DWI.R)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here