Beranda Berita Tupai Merah Betina Mau Mengadopsi Bayi Yatim, Tapi Hanya Jika Masih Keluarga

Tupai Merah Betina Mau Mengadopsi Bayi Yatim, Tapi Hanya Jika Masih Keluarga

18
0

Buletin-news.com – Sebuah penelitian selama hampir dua dekade mengungkap sisi unik dari hewan pengerat yang dikenal soliter: tupai merah (Tamiasciurus hudsonicus) ternyata bersedia mengadopsi bayi yatim piatu. Namun, perilaku yang tampaknya altruistis ini hanya terjadi jika bayi tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan dengan induk angkat.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada Juni 2010 ini melibatkan peneliti dari University of Guelph, University of Alberta, dan McGill University di Kanada . Tim peneliti menganalisis ribuan kelahiran tupai di wilayah Yukon selama 19 tahun dalam proyek jangka panjang bernama Kluane Red Squirrel Project .

Dari 2.230 kelahiran yang tercatat, tim peneliti hanya menemukan lima kasus adopsi yang berhasil . Kelangkaan ini sesuai dengan sifat alami tupai merah sebagai hewan soliter dan sangat teritorial.

“Tupai merah hidup dalam isolasi total dan sangat teritorial. Satu-satunya waktu mereka mengizinkan tupai lain masuk ke wilayahnya adalah saat musim kawin atau saat menyusui anaknya,” jelas Prof. Andrew McAdam, ahli biologi evolusi dari University of Guelph, seperti dikutip dalam rilis resmi universitas tersebut .

Dalam lima kasus adopsi yang teridentifikasi, bayi yang diadopsi adalah keponakan, cucu, atau saudara kandung dari induk betina pengadopsi . Sementara itu, anak yatim yang tidak memiliki kerabat di sekitar sarangnya tidak pernah diadopsi .

Para peneliti menjelaskan bahwa perilaku ini tidak semata-mata didorong oleh naluri keibuan, melainkan sesuai dengan Hukum Hamilton (Hamilton’s rule: rb > c), sebuah teori evolusi sosial yang menyatakan bahwa perilaku altruistis dapat berkembang jika manfaat genetik bagi individu (dikalikan tingkat kekerabatan) melebihi biaya yang dikeluarkan .

“Adopsi menimbulkan biaya bagi induk angkat karena harus berbagi sumber daya nutrisi dan ruang di dalam sarang dengan anak tambahan,” jelas Jamieson Gorrell, kandidat PhD University of Alberta yang menjadi peneliti utama . “Dari perspektif evolusi, pertanyaannya adalah mengapa seekor hewan mau mengadopsi jika itu membahayakan kelangsungan hidup keturunannya sendiri.”

Jawabannya terletak pada keuntungan genetik jangka panjang. Membantu kerabat dekat untuk bertahan hidup tetap dapat menyebarkan gen yang sama—meskipun bukan melalui keturunan langsung .

Yang paling mengejutkan adalah kemampuan tupai merah untuk mengenali hubungan kekerabatan tanpa kontak fisik. Sebagai hewan soliter, tupai merah jarang berinteraksi satu sama lain .

Tim peneliti meyakini bahwa tupai menggunakan suara atau vokalisasi teritorial mereka untuk mengenali kerabat. “Vokalisasi konstan yang digunakan tupai untuk menandai wilayahnya dan mengusir penyusup kemungkinan mengandung sinyal yang menggambarkan sejarah genetiknya,” ungkap Gorrell .

Jika tupai betina tidak lagi mendengar suara kerabatnya yang tinggal di dekatnya selama beberapa hari, ia akan menyelidiki. “Jika mereka menemukan bayi di wilayah tersebut, mereka mengingat bahwa tetangganya adalah kerabat dan membawa bayinya kembali ke sarang. Ini adalah perilaku yang cukup cerdas untuk seekor tupai,” kata McAdam .

Penelitian ini juga menemukan bahwa tupai betina memiliki “batasan altruisme” yang terukur. Mereka hanya akan mengadopsi satu bayi dari satu kelahiran, meskipun induk kandung mungkin meninggalkan beberapa anak .

Selain itu, preferensi adopsi bergantung pada ukuran liter (jumlah anak kandung) induk angkat. Induk dengan liter lebih besar cenderung hanya mengadopsi kerabat yang lebih dekat (seperti cucu atau adik kandung), sementara induk dengan liter lebih kecil lebih fleksibel hingga tingkat keponakan .

Temuan ini penting karena menjadi bukti pertama berlakunya Hukum Hamilton pada hewan non-sosial atau soliter. Sebelumnya, teori ini lebih banyak dibuktikan pada hewan yang hidup berkelompok seperti simpanse atau singa .

“Studi ini memberikan uji coba yang jelas terhadap Hukum Hamilton dan menjelaskan mengapa altruisme sesekali tetap bisa bertahan pada populasi mamalia di alam liar,” demikian kesimpulan dalam abstrak publikasi ilmiah tersebut .

Penelitian ini didanai melalui proyek jangka panjang Kluane Red Squirrel Project yang telah berlangsung sejak 1987 dan memantau perilaku serta reproduksi sekitar 7.000 ekor tupai di wilayah Yukon, Kanada .

Sumber:

· Gorrell, J.C., et al. (2010). “Adopting kin enhances inclusive fitness in asocial red squirrels.” Nature Communications, 1, 22. DOI: 10.1038/ncomms1022

· University of Guelph. “Newsweek features U of G Research on Squirrels.” (2021)

· McGill University Newsroom. “Squirrels show softer side by adopting orphans.” (2013)

· (e) Science News. “Red squirrels: Altruists or self-serving survivalists?” (2010)

· Bobo.ID. “Benarkah Tupai Merah Suka Mengadopsi Bayi Tupai?” (2018)

LP : Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here